CERIA4D NEWS > Mengadu nasib Pekerja Pijat "PLUS" Demi Menggapai impian

Image result for CEWEK PIJAT PLUS

CERIA4D 18++ NEWS> Sore itu saya melintas di sebuah jalan, sanubari saya tergelitik dengan reklame bewarna-warni, “Pijat Roro Mendut” begitu tulisannya. Dilihat dari papan reklamenya saja tentu kita sudah bisa tahu bahwa itu bukanlah pijat biasa melainkan pijat “plus”. Sayapun serta merta segera masuk ke dalam, sepintas tidak ada yang aneh dengan bangunan panti “pijat” itu. Motor saya parkir di tempat parkir “panti pijat” itu. Pada saat akan memasuki bangunan itu saya berpapasan dengan wanita sintal berambut panjang yang tersenyum kepada saya, sayapun membalas senyumannya.
Sambutan yang hangat ditujukan kepada saya oleh sang pemilik panti pijat di bilangan timur Jakarta itu. Saya langsung menuju ke meja registrasi dimana terdapat foto para pemijat “plus”. Terkesan semua pemijat tampak cantik Saya pun langsung diarahkan untuk memilih Aan (43 tahun) wanita yang katanya paling mantap “pijatannya”. Sang pemilik kemudia menggiring saya kedalam ruangan yang memiliki bilik-bilik pijat. Awal mulanya saya terkesima dengan banyaknya bilik-bilik itu. Ruangan itu terasa dingin dan kelam. , baunya pun tercium tidak biasa.
Saya menempati bilik yang paling pojok. Bilik itu seukuran kamar biasa dengan kamar mandi serta meja rias di dalamnya. Duapuluh menit berlalu akhirnya saya bertemu dengannya. Ia menggunakan rok hitam dipadu blazer hitam dengan rambut digerai, wajahnya sedang-sedang saja tetapi wanita pemijat itu memiliki senyum menawan nan menggoda.
Canggung saya rasakan untuk pertama kalinya. Sebuah campuran rasa grogi dan rasa antusias. Perasaan itu sungguh tidak enak. Akhirnya saya-pun memberanikan diri memulainya.
“Tarifnya berapa mbak?” tanya saya sebagai pembuka pembicaraan. “seratus mas” jawabnya.
“Kurangin donk?” sahut saya.
Ga mau, kalau mau ya segitu kalau mau ya nggak usah mas” paparnya dengan senyum yang tetap tersungging di bibir.
Image result for cewek seksi pijat plus

Sayapun mengiyakan walau agak keberatan. Pijatan demi pijatan saya rasakan dengan agak canggung. Akan tetapi kami berdua mengobrol dengan santai. Di sela-sela obrolan secara tak langsung ia juga menawarkan jasanya untuk “pijatan” yang lain. Perempuan asli Malang ini menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan mantap dan tanpa keraguan. Ibu dari dua orang putra ini terpaksa menjalankan profesi ini dikarenakan suaminya yang sudah meninggal dunia. Terdorong oleh pendidikan anak yang harus ia penuhi, Aan-pun memutuskan untuk merantau ke ibukota dan ia pun ditawarkan pekerjaan oleh temannya untuk menjadi pemijat “plus-plus”. Wanita yang tamatan SMP inipun langsung mengiyakan ajaran tersebut.
Aan juga menegaskan dengan mantap bahwa tidak ada rasa sesal di dalam dirinya, yang ada hanyalah rasa cinta yang mendalam kepada dua orang putranya. Aan adalah salah satu potret masyarakat marginal yang terpaksa melakukan pekerjaan tersebut untuk pendidikan anak-anaknya. Apakah pekerjaan yang ia lakoni salah? Tentu tiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ia pun hanya tersenyum ketika saya bertanya apakahtidak ada pekerjaan lain yang ia bisa lakukan.
Semua pekerjaan pasti memiliki suka dan duka, tak terkecuali pekerjaan yang satu ini. Sorot mata serta kerutan wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran menganai raga yang tak lagi mumpuni untuk bekerja. Umurnya yang sudah kepala empat tentu membuatnya tidak lagi populer dikalangan pelanggan. Jika dipukul rata, pelangganya seorang tiap dua hari sekali. Uang tersebut dipotong 20% untuk pemilik panti pijat dan uang sejumlah Rp. 80.000,00 lah yang hanya ia dapatkan. Hal ini tentu tidak sebanding dengan pengeluaran dan stigma negatif yang ia dapatkan.
H Hal “Semua pemijat disini pensiun umur empat puluh empat mas” tandasnya. Ia pun mengaku pasrah dengan keadaan tersebut. Ia percaya bahwa sudah bukan gilirannya lagi untuk memijat, melainkan giliran junior-juniornya. Kini hanya uang tabungan yang akan ia pergunakan untuk membuka sebuah warung makan di kampung halamannya. Selain itu ia juga berharap pada putra tertuanya yang sebentar lagi akan lulus perguruan tinggi untuk bekerja dan menghidupi dirinya serta sang bungsu.
`”segera setelah saya kembali menggenakn baju dan menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah, Mbak Aan, tersenyum tipis, dan terlihat matanya setengah menerawang…mungkin target hari ini belum ia penuhi


AGEN TOGEL ONLINE AMAN DAN TEPERCAYA :

        KLIK DI BAWAH INI :
     >>>TOGEL ONLINE <<<
>>>TOGEL ONLINE AMAN<<<

Tidak ada komentar